Celoteh Ramadan [2]: Puasa dan Sisa Berbuka
Hai lagi!
Bagaimana puasamu hari ini? Tak lagi sekadar merasakan haus dan lapar?
Jika masih begitu, tak masalah! Terkadang tubuh mampu beradaptasi. Namun angan dan ingin susah diajak kompromi. Iya, kan?
Eh, apakah di meja makanmu masih tersisa sereguk kopi dingin, teh manis atau beragam minuman sisa berbuka puasa?
Jika bersisa, mungkinkah membiarkan barisan semut ikut serta merayakan momen berbuka? Atau usaha mereka berujung duka?
Ketika sisa minuman itu berakhir di tempat cuci piring. Atau malah semut-semut itu menemukan kematian karena kekenyangan usai berpesta dari minuman sisa?
Aih, begitulah!
Terkadang, dari yang tersisa pun. Bisa berujung nestapa, kan?
Coba semisal tak pernah ada minuman sisa? Bisa saja, komandan barisan semut itu, tak mengajak pasukannya untuk ikut serta berpesta, kan?
Itu baru minuman sisa! Bagaimana dengan sepotong bakwan yang baru terusik satu gigitan? Atau Sepotong goreng pisang yang bersisa setengah?
Terkadang, Ramadan tak hanya menahan diri dari lapar dan haus, kan? Tetapi juga dari perilaku sia-sia.
Susah? Pasti!
Makanya, butuh sebulan latihan intensif! Dan ramadan setiap tahun selalu ada, kan?
Kita saja yang mungkin tiada. Tapi, entah kapan!
Curup, 15.04.2021
zaldy chan

Posting Komentar untuk "Celoteh Ramadan [2]: Puasa dan Sisa Berbuka"