Celoteh Ramadan [3]: Imam Salat Tarawih
![]() |
| Dokpri Zaldychan |
Hai! Bagaimana harimu?
Di hari ketiga berpuasa, semoga sudah terbiasa dengan perubahan pola hidup saat menjalankan ibadah puasa, ya?
Eh, jika berbicara tentang kebiasaan di bulan puasa. Setidaknya, ada 3 kegiatan yang yang terpola selama ramadan.
Pertama. Sahur.
Kedua. Berbuka
Ketiga. Salat Tarawih.
Dua yang pertama, akan ada walau tidak di bulan ramadan. Karena, ada saja yang berpuasa di luar bulan puasa, kan?
Mungkin menjalankan puasa sunah semisal senin-kamis, setiap tanggal 13. 14 dan 15 setiap bulan, puasa di bulan Rajab, Sya'ban, atau Syawal.
Atau, bisa juga melakukan puasa karena membayar hutang atau sebagai bentuk melunasi nazar. Iya, kan?
Namun, berbeda dengan Salat Tarawih. Sebab, ibadah ini hanya ada di bulan ramadan. Itu salah satu alasan, ibadah ini menjadi istimewa. Hanya ada sekali setahun. Selama satu bulan penuh.
Aku tak akan masuk ke ranah perdebatan tentang jumlah rakaat pada salat tarawih. Sing penting ikhlas mengerjakan!
Yang kusigi adalah, asal kata dari Tarawih. Jika berpijak pada asalnya dari Kata Arab "Rayhan" kemudian menjadi "Tarwiihan" dan diindonesiakan dengan kata Tarawih.
Makna kata Tarawih itu adalah bersenang-senang! Jadi, ibadah itu dilakukan dengan riang. Bukan dalam suasana mencekam dan tertekan, gegara jumlah rakaat yang banyak.
Nah. Di sinilah, fungsi strategis Imam salat Tarawih. Bagaimana caranya, memimpin jamaah untuk merasakan kesenangan itu.
Pertama. Bukan Adu Hapalan.
Terkadang, ada juga yang "pamer". Biar dianggap banyak hapalan ayatnya. Sehingga berpanjang-panjang dengan irama yang seperti peserta lomba MTQ.
Memang tak ada larangan. Namun, namanya pemimpin, mesti memahami orang-orang yang dipimpin, kan? Bukan seenake dewe, mentang-mentang pemimpin.
Kedua. Baca Ayat atau Surat yang Dikenal Jamaah.
Ini adalah sisi psikologis. Jika Imam membaca surat yang dihapal atau dikenal, biasanya jamaah akan lebih khusu".
Sebaliknya, jika terdengar "asing", kenikmatan itu jadi berkurang. Sebab, mereka akan meraba dan menunggu, kapan bacaan itu akan berakhir untuk gerakan berikutnya.
Ketiga. Ada Jeda (Tuma'ninah).
Ada sebagian kalangan, yang melakukan Tarawih bak kilat! Jika salah disebut kebut-kebutan. Semisal membaca alfatihah dengan satu tarikan nafas.
Namun, jika Tarawih dilakukan dengan kecepatan penuh, makana bersenang-senangnya di mana? Sedangkan salah satu adab salat adalah tuma'ninah. Artinya ada jeda untuk menyempurnakan gerakan dan bacaan.
Bayangkan jika jemaahnya orang-orang berusia sepuh? Dengan pendengaran serta kemampuan fisik yang mulai terbatas?
Kukira. Tak hanya tentang hapalan dan fasih bacaan. Kebijaksanaan Imam memahami Makmum (jamaah), adalah salah satu unsur untuk mewujudkan makna sebenarnya dari kata Tarawih. Bersenang-senang!
Aih. Udah, ya?
Selalu sehat dan bahagia untuk semua!
Curup, 16.04.2021
Zaldychan

Posting Komentar untuk "Celoteh Ramadan [3]: Imam Salat Tarawih"