Celoteh Ramadan [4] : Tentang Witir (Tulisan Pengantar)
![]() |
| Sumber Gambar: pixabay.com |
Ada perbedaan di masyarakat tentang jumlah salat Tarawih. Namun, semua sepakat berhenti pada bilangan genap.
Ada yang 8 Rakaat, ada juga yang 20 rakaat. Selanjutnya, ada yang melakukan dengan 2 rakaat 1 salam. Ada juga yang 4 rakaat 1 salam.
Perbedaan itu menjadi indah, jika semua memiliki dan memaklumi argumentasi yang digunakan sebagai hujjah, kan?
"Lah? Kami 11 Rakaat!"
"Di Masjidku, 23 Rakaat, Bang!"
Nah. Angka ganjil 11 rakaat itu adalah 8 Rakaat salat Tarawih, dan 3 Rakaat salat Witir. Begitu juga angka 23. Artinya, 20 rakaat salat tarawih, serta 3 rakaat salat witir.
Dalam bahasa arab. Makna kata Witir itu ada dua.
Pertama. Disebut ganjil.
Kedua. Bisa diartikan penutup.
Karena itulah, maka jumlah rakaat pada salat witir, selalu ganjil. 1, 3, 5, hingga semampunya.
Jika diperhatikan. Biasanya, jika di masjid atau mushalla. Usai salat tarawih, ada saja jamaah yang memutuskan tidak melaksanakan salat witir.
Kemudian timbul pertanyaan. Kenapa?
Alasan yang jamak dikemukakan. Karena mereka berniat untuk melakukan salat tahajud (qiyamun lail)!
Jadi, salat witir akan dilakukan setelah melaksanakan salat tahajud. Sehingga, mereka memilih tidak "menutup" salatnya pada saat melaksanakan salat tarawih.
Kenapa bisa begitu? Sebab, awal hitungan hari dimulai sejak kedatangan waktu subuh!
Jadi?
Tulisan ini hanya sebuah pengantar. Bermaksud mengajak kembali untuk menyigi makna Witir yang ada dalam salat.
Udah, ya?
Curup, 17.04.2021
Zaldychan

Posting Komentar untuk "Celoteh Ramadan [4] : Tentang Witir (Tulisan Pengantar)"