Memaknai Partisipasi, Representasi, dan Akuntabilitas Perempuan
![]() |
| Ilustrasi partisipasi wanita di bidang konstruksi oleh whitesession dari pixabay.com |
Tanggal 21 April adalah Hari Kartini. Bulan April adalah bulan peringatan kelahiran Ibu kita Kartini. Apakah melalui upacara, perayaan, dan arak-arakan, maupun kegiatan-kegiatan offline.
Salah satu euforia dalam kemeriahan itu adalah dengan menuliskan kisah-kisah tentang R.A. Kartini dan prestasi maupun representasi kaum perempuan di berbagai bidang. Ia merupakan bulan penuh pengutamaan tentang peran perempuan.
Lantas, apakah makna itu hanya berhenti di bulan April? Bagaimana posisi perempuan pada masyarakat dengan kultur cenderung patriarki?
Dalam kehidupan sehari-hari masih melekat pandangan yang diwarnai maskulinitas dengan mengabaikan perspektif feminis.
Sewaktu SMA saya merasakan ihwal itu.
Pada waktu duduk di kelas dua (sekarang kelas 11), saya merupakan siswa pindahan. Seorang siswi --sebutlah namanya: Iteung-- juga pindahan, meski berasal dari kota berbeda.
Yang mengejutkan, Iteung menampilkan prestasi belajar mengesankan. Dalam semester akhir ia menunjukkan nilai tertinggi kedua, di bawah saya.
Pada periode berikutnya, siswi manis itu menggeser posisi saya sebagai juara kelas. Di masa selanjutnya, giliran saya menyingkirkannya ke posisi dua. Demikian seterusnya, juara satu dua bergantian ditempati oleh Iteung dan saya.
Bagi kami berdua hal itu bukan kompetisi. "Perlombaan" itu merupakan penyemangat dan pemantik gerakan saling ajar-mengajari, sambil sesekali ngelaba. Eh, enggak gitu ding. Sesuatu yang sifatnya lumrah. No hard feeling, malah timbul feeling nganu di antara kita berdua.
Namun, tidak demikian dengan teman-teman pria. Ketika saya di posisi dua, mereka menunjukkan kekecewaan, kemudian berusaha mengintimidasi Iteung, kendati tidak melampaui batas-batas kesopanan.
Sebaliknya, bila saya berada di peringkat satu, siswa-siswa itu bergembira, seolah mereka yang juara.
Dengan kata lain, meminjam kalimat William Outbwaite, diasumsikan ada kondisi tidak setara antara perempuan dengan pria, baik dalam ketimpangan gender, yang merupakan efek sosial dari perbedaan kelamin.
Dalam kasus di atas, perempuan –diwakili oleh Iteung—secara samar-samar dianggap tidak layak merepresentasikan keunggulan dibanding pria.
Sebuah pandangan yang dipulas dengan maskulinitas dengan pengabaian terhadap perspektif feminis.
Moga-moga, perkembangan mutakhir tidak menggambarkan keadaan demikian. Perempuan semakin mendapat tempat dalam berbagai bidang.
Pada masa kini partisipasi, representasi, dan akuntabilitas kaum perempuan di berbagai bidang lebih dapat dimaknai dengan setulus hati.
Demikian agar semangat yang ditularkan oleh R.A. Kartini tidak menjadi artifisial dan sia-sia.
Selamat Hari Kartini

Posting Komentar untuk "Memaknai Partisipasi, Representasi, dan Akuntabilitas Perempuan"