Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Misteri Palang Pintu Kereta Api

https://i.ytimg.com

“Diam!  Jangan bergerak! Kalau tidak pistol ini akan melubangi kepala kalian!” Suara keras mengancam ini keluar dari mulut laki-laki tinggi besar bercambang.  Wajahnya terlihat bengis tanpa belas kasih.  Dua orang teman tak kalah sangarnya berjaga-jaga di pintu depan dan belakang. 

Sementara dua orang lagi tetap di atas motor dan di balik kemudi sebuah mobil sedan merah.
Semua penumpang bus antar propinsi itu terdiam.  Bus yang hanya terisi setengahnya dirampok di tengah hutan di daerah yang sangat sepi.  Siapapun tidak mengira bahwa motor yang tersenggol tadi hanyalah siasat dan kepura-puraan saja.

Mau tak mau semua penumpang menyerahkan apa yang dipunya.  Jam tangan, dompet, HP, dan perhiasan para wanita.  Semua orang berpikir ribuan kali untuk memberontak dan melawan.  Selain kebanyakan penumpang adalah wanita, orang tua dan anak anak tentu saja.

Tiga orang perampok jalanan itu tertawa puas.  Mengumpulkan semuanya dengan buas. Setelah itu pergi meninggalkan para penumpang yang masih diliputi ketakutan dan ketidakberdayaan.

Mobil dan motor para perampok itu kemudian menderu dan menggeram meninggalkan mangsanya yang sebagian tersedu sedan dalam hilangnya harapan.  Tidak membawa apa-apa sampai kampung halaman.

----------

Beberapa pasang mata menyaksikan semua kejadian dari kejauhan dengan hati miris dan ngeri.  Di atas sebuah mobil yang terparkir dan dimatikan semua lampunya.  Bahkan bernafaspun dilakukan dengan sangat pelan.  Takut para perampok itu mendengar dan menjadikan mereka sebagai sasaran berikutnya.

Broto dan keluarganya bernafas lega begitu mobil dan motor pembawa kejahatan itu melesat pergi.  Menunggu beberapa saat untuk meredakan debar jantung lalu menghidupkan mesin mobil dan beranjak pergi.  Mengikuti lampu bus di kejauhan yang terlihat sangat merana.

Broto menjalankan mobil tidak terburu-buru.  Hatinya masih dicekam kengerian atas aksi perampokan tadi.  Apalagi dia sedang membawa keluarganya.  Istri dan dua anaknya yang masih kecil segera saja tertidur pulas.  Kejadian tadi mempengaruhi psikologis mereka dengan sangat.

Mendadak Broto mengerem mobilnya.  Sebuah motor terlihat tergeletak di jalanan.  Dia tidak jadi menghindar ketika dilihatnya juga ada orang yang tergeletak di sisi lainnya.  Broto berdebar debar saat menghentikan mobilnya.  Dia sangat berharap ada mobil lain di belakangnya.  Tidak ada.  Ini pukul satu dinihari.  Orang-orang lebih memilih beristirahat di rest area atau pom bensin.  Broto merutuki dirinya.  Kenapa dia tadi tidak berhenti saja dulu.

----------

Beberapa orang terlihat mendekati mobilnya.  Penjahat-penjahat tadi! Broto menahan nafas.  Masih berhitung dengan keputusannya.  Dia mempertimbangkan anak istrinya.  Syukurlah mereka masih tertidur sehingga tidak terjadi histeria yang bisa semakin membuatnya limbung.

Broto memutuskan!  Ditekannya gas dalam-dalam sebelum orang-orang itu tiba.  Dia masih tidak tega menabrak orang yang tergeletak di sebelah motor.  Dia lebih memilih melindas motor di hadapannya.  Terdengar suara derak keras ketika bemper dan ban mobilnya menghantam motor yang menghalangi.  Terdengar juga teriakan teriakan penuh kemarahan dari orang-orang itu.  Broto melirik spionnya.  Nyala lampu mobil sedan itu terlihat mengejar mobilnya!

Broto tidak mau menyerah begitu saja.  Dia terus memacu kendaraannya.  Istri dan anak-anaknya terbangun dan berteriak-teriak.  Istrinya menanyakan apa yang terjadi.  Broto tidak sempat menjawab dan hanya menudingkan telunjuknya ke belakang.  Istrinya menjadi panik dan memeluk kedua anaknya di belakang dengan erat.

---------

Kejar-kejaran itu berlangsung seru.  Broto kembali mengeluh dalam hati.  Dia hafal kota terdekat di depan masih puluhan kilometer lagi.  Dia masih harus melintasi hutan jati dengan jalan berkelok-kelok dan beberapa perlintasan rel kereta api.

Aku tidak boleh menyerah!  Broto menguatkan hatinya.  Nampak dari jauh sinar lampu kereta api mendatangi perlintasan rel di depannya.  Broto semakin panik.  Menurut perhitungannya dia tidak akan bisa menyeberang tepat pada waktunya.  Dilihatnya nyala lampu sedan itu masih mengikuti tidak jauh dari belakangnya.  Broto berdegup-degup jantungnya.  Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.

Broto berdoa sekuat-kuatnya.  Nyala lampu kereta api semakin dekat dengan perlintasan.  Suara terompetnya membelah malam.  Memberikan peringatan kepada siapapun agar tidak nekat menyeberang.  Broto menghela nafas sepanjang yang dia sanggup.  Menghentikan mobilnya karena palang pintu perlintasan sudah tertutup.  Apa yang harus dilakukannya?  Sementara lampu sedan di belakangnya mendekat dengan cepat.

Perampok kurus yang memegang kemudi sedan tersenyum lebar.  Dia melihat mobil yang dikejar berhenti sebelum perlintasan kereta api.  Padahal dalam penglihatannya tidak satupun kereta dari dua arah yang akan lewat.  Tidak ada nyala lampu kereta api.  Bahkan dia hafal sekali, perlintasan di depan tidak mempunyai palang pintu.  Dalam penglihatan selanjutnya mobil buruan mereka bergerak lagi menyeberangi rel dengan tergesa-gesa.

Perampok kurus itu menambah kecepatan mobilnya.  Mobil itu tidak boleh terlepas.  Mereka semua mengeluarkan cacian berkepanjangan sejak tadi.  Motor mereka remuk redam dilindas mobil nekat itu.  Sedan merah itu menyeberangi perlintasan dengan kecepatan tinggi.  Disambut oleh moncong baja lokomotif kereta api yang masinisnya terperanjat saat melihat mobil itu melintas dengan cepat. 

Suara tabrakan itu mengiris kesunyian dengan gemuruh yang mengerikan.  Mobil itu terseret ratusan meter sebelum masinis berhasil menghentikan lokomotifnya.  Memandangi dari balik kaca. 
Mobil sedan itu remuk tak berbentuk lagi.  Masinis itu juga sempat melihat lima bayangan bertumpuk tak karuan di dalam mobil.  Hancur berantakan dengan darah berlepotan di semua badan mobil. 

Broto menyaksikan semua itu dengan mata terbelalak.  Dia tadi hanya menyaksikan mobil sedan itu tidak jadi berhenti di sampingnya.  Malah melajukan kendaraannya.  Menabrak palang perlintasan dan disambut oleh kereta api yang memuat kontainer-kontainer raksasa.

Broto menundukkan mukanya.  Dia berpaling kepada istri dan anak-anaknya di belakang.  Istrinya menunjuk ke depan dengan tangan gemetar.  Broto melihat sesuatu dan kemudian menyadarinya.  Perlintasan kereta api itu ternyata tidak berpalang pintu sama sekali! 

--------------

Jakarta, 14 Juni 2017

2 komentar untuk "Misteri Palang Pintu Kereta Api"

  1. Dan film terpotong iklan
    Saat kembali ke film mereka selamat

    Jagoan harus selamat

    BalasHapus
  2. Ikut menikmat cerita ini mas..☺️👍

    BalasHapus
DomaiNesia